|
Mempertahankan Manajer Mengah
“ Dengan meningkatnya PHK , perusahaan harus memiliki saluran komunikasi yang baik & terbuka untuk mengatasinya “
Diadaptasi dari buku berjudul The Truth about Middle Managers yang ditulis oleh Prof. Paul Osterman dari M.I.T’s Sloan School of Management
Kondisi perekenomian yang diperkirakan tidak menentu membuat para pekerja memiliki kekhawatiran akan masa depannya, khususnya para manajer menengah yang sering merupakan target bagi pemiliki bisnis atau perusahaan. Suatu pertanyaan, apakah mereka ( manajer menengah ) merupakan lapisan yang kurang penting diantara para senior manajer dan pekerja di lini perusahaan ? Prof Paul Osterman dari salah satu universitas rekemuka didunia, M.I.T,s Sloan School of Management membantah akan hal tersebut , karena diantara kedua lapisan ( senior dengan lini ) , manajer menengah merupakan bagian integral ( tak terpisahkan ).
Dalam suatu wawancara dengan majalah Fortune, Profesor Paul menjawab tentang keberadaan para manajer menengah dalam kondisi ekonomi yang menurun.
F : Apakah yang menimbulkan “ miskonsepsi “ tentang manajer kelas menengah ?
Prof : Ada beberapa pandangan yang berbeda tentang keberadaan manajer menengah dalam perusahaan, salah satunya adalah bahwa manajer menengah merupakan korban dan beban perusahaan. Dari tinjauan organisasi – sebagai korban ; Para manajer kelas menengah yang diharapakan oleh perusahaan memberikan kontribusi tinggi, tetapi tidak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dari pandangan beban perusahaan, membayar para manajer menengah dianggap hanya menjadi beban/biaya overhead perusahaan saja. Ada yang menentang tentang kedua pandangan tersebut, yaitu “ The Hero-empowered views “ , pandangan ini berpendapat bahwa jangan melupakan suatu sejarah, bahwa sebagian besar perusahaan raksasa di Amerika merupakan kerja keras para manajer menengah , mana mungkin para perusahaan besar mencapai suatu skala besar tanpa perencanaan yang dibuat oleh para manajer menengah ? Meninggalkan para manajer menengah dalam suatu organisasi perusahaan diibaratkan meninggalakan para entrepreneur yang memahami seluk beluk binis perusahaan.
F : Bagaimana dan seperti apa kondisinya setelah 6 bulan terakhir ini ?
Prof : Ada sedikit persamaan ketika kondisi perekonomian menurun pada 20 tahun yang lalu, tetapi ada pergeseran pemikiran bahwa perusahaan memandang para manajer bukan merupakan beban biaya tetap. Apabila perusahaan dengan berat hati harus melakukan PHK maka yang menjadi sasaran utama adalah “ front line workers “ – pekerja garis depan . Pada 20 tahun yang lalu para “ white collars “ dan manajer sangat rentan terhadap PHK, tetapi selama 6 bulan terakhir ini hal tersebut belum tampak ( dibandingkan 6 bulan pertama krisis 1980 ) .
F : Apakah para manajer menengah menderita dalam kondisi ekonomi saat ini ?
Prof : Para manajer menengah memang sangat rentan dan kurang merasa aman posisinya dalam kondisi ekonomi saat ini, tetapi dalam buku ditunjukan bahwa banyak para manajer menengah belum kehilangan pekerjaan. Diakui bahwa banyak para manajer dalam kondisi yang merasa khawatir, tetapi inilah suatu kenyataan baru yang harus dihadapi, karena itu tidak perlu khawatir , lakukan apa yang dapat dilakukan secara maksimal.
F : Menurut anda apa yang menyebabkan manajer menengah kurang loyal ?
Prof : Para manajer menengah merupakan “ craft workers “ , mereka sangat loyal terhadap pekerjaannya dan kelompoknya, hal tersebut menjadi berbeda – kurang loyal ketika berada pada perusahaan besar. Alasan pertama, Para manajer menengah berpendapat bahwa dalam perusahaan besar para top manajemen hanya melindungi diri sendiri dan kadang rakus dan egois , alasan kedua , Perusahaan sering mengurangi komitmen yang telah disepakati, misalkan dalam hal janji atas kelangsungan bekerja , yang akhirnya menimbulkan saling ketidak percayaan. Hal yang ketiga adalah makin sulitnya para manajer menengah untuk naik ke jenjang lebih tinggi, dikarenakan perusahaan lebih suka mengambil senior manajer dari luar perusahaan. Hal-hal tersebut yang menghilangkan loyalitas terhadap perusahaan, bukan berarti hilangnya komitmen untuk melakukan pekerjaan terbaik.
F : Dengan kondisi tersebut, lalu apa yang telah terjadi ?
Prof : Banyak yang pindah kerja, ada yang sinis, kurang memaksimalkan pekerjaan, hanya berdiam-tidak banyak bertanya tetapi terus bekerja, ada yang bekerja keras tetapi tertekan, karena yang lain tidak melakukannya
F : Apa yang harus dipahami oleh para pemimpin bisnis terhadap para manajer menengah saat ini ?
Prof : Para pemimpin bisnis harus memahami apa yang perlu dilakukan dan dihindarkan. Dalam kondisi perekonomian saat ini sangat jelas pilihannya yaitu PHK dan restrukturisasi . Pertama, para pimpinan puncak harus berkeinginan untuk berbagi rasa terhadap kemungkinan yang akan terjadi atas bawahannya, kedua , pimpinan puncak harus menunjukan secara jelas dan transparan criteria dan proses yang menjadi kebijakan dan keputusan perusahaan . Perusahaan harus secara jelas menunjukan kemana arah perusahaan yang dituju. Secara garis besar perusahaan harus menjelaskan , apa yang akan dilakukan apabila kondisi semakin memburuk , criteria apa yang diperlukan oleh perusahaan dalam melanjutkan hubungan kerja dengan para manajer menengah , bagaimana meningkatkan kemampuan dalam mengatasi kesulitan mendatang, memperluas tugas kerja manajer menengah dalam membantu yang lainnya.
F : Apa yang harus dilakukan oleh para manajer menengah untuk memperbaiki kinerjanya ?
Prof : Terus terang ada literature dan seminar yang telah merusak reputasi para manajer menengah , tetapi ketika ditanyakan kepada para senior manajer , para senior manajer tidak dapat bekerja secara fungsional tanpa kehadiran manajer menengah yang kuat dan efektif. Para manajer menengah memiliki peran penting dalam menjalankan atau mengekseksi keputusan yang telah diambil para senior manajer, dan yang tak kalah penting adalah mereka merupakan penghubung antara pimpinan puncak perusahaan dengan semua bagian atau departemen dalam suatu organisasi perusahaan. Dalam kondisi saat ini lakukan secara maksimal apa yang dapat dilakukan tanpa kekhawatiran yang berlebihan, khususnya yang akan mengganggu kinerja personal.
Posted by : RF ( March 15th 2009 )
|