Text Size
   
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday12
mod_vvisit_counterYesterday52
mod_vvisit_counterThis week402
mod_vvisit_counterThis month3026
mod_vvisit_counterAll46250

Who's Online

We have 69 guests online
Strategy



CHINA MENUJU KE PEMULIHAN EKONOMI

“ Tanda-tanda efektivitas stimulus fiscal mulai tampak

Suatu pelajaran dari Negeri China

 Oleh : Hendra S Raharjaputra

 

      Masyarakat China sangat percaya kepada angka delapan ( 8 ), yang memiliki arti “ Kesejahteraan “ . Keberuntungan tersebut bukan diperoleh dengan begitu saja , tetapi merupakan suatu usaha keras pemerintah China dalam melakukan stimulus fiscal yang cukup besar jumlahnya , tepat sasaran, segera dan tidak bertele-tele , yang diperkirakan akan memicu pertumbuhan sebesar 8 % pada tahun 2009 .

     Pada awal tahun 2009, para ekonom memprediksikan pertumbuhan sebesar 8 % hal yang sulit dicapai pada saat kondisi resesi global saat ini, tetapi beberapa ekonom mulai mendukung tentang prediksi tersebut.

     Sekilas bahwa GDP – China yang dipublikasikan pada 17 April lalu sebesar 6,1 % ( kwartal I ) mengecewakan, jumlah tersebut kurang dari separuhnya, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan yang begitu spektakuler diperoleh China pada pertengahan 2007 , tetapi apabila dilakukan pengkajian mendalam pertumbuhan kwartal I – 2009 sudah mulai “ memercik “ kearah pertumbuhan yang lebih besar.

     Apabila dibandingkan dengan 3 bulan pertama pertumbuhan sudah mulai bangkit sebesar 6 % rata-rata / tahun , setelah pada kwartal IV mengalami pertumbuhan yang melambat atau bahkan berhenti ( Lihat Grafik ! ) . Akhir Maret 2009 pertumbuhan ekonomi mulai bangkit dengan naiknya aktivitas produksi sektor industri sebesar 8,3 % , bila dibandingkan 2 bulan pertama tahun 2009 yang hanya 3,8 % . Penjualan retail 16 % lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu , investasi tetap ( fixed investment ) naik 30 % , menandakan stimulus yang dilakukan pemerintah China pada sektor infrastruktur akan mulai menuai hasil yang menjajnjikan. 

     Menurunnya nilai ekspor sampai bulan Maret 2009 sebesar 17 % , dan permintaaan global yang semakin menurun, merupakan suatu alasan bagi para ekonom dalam memprediksikan pertumbuhan GDP China hanya akan sebesar 5 % / tahun – 2009 , tetapi prediksi yang diperkirakan China akan mengalamai kemuraman ekonomi dengan menurunnya ekspor agak keliru, karena pemerintah China mampu melakukan suatu stimulus yang tepat, baik dan benar.

     Sangat kontras, bahwa melemahnya perekonomian China bukan dipicu oleh menurunnya nilai ekspor yang tajam ke Amerika ,tetapi lambatnya pertumbuhan China dimulai pada tahun 2007 ( sebelum nilai ekspor jatuh ) , dikarenakan “ tumbangnya “ sektor property dan konstruksi . Dampak dari tumbangnya sektor tersebut pemerintah China melakukan kebijakan kredit yang ketat agar perekonomiannya tidak makin memanas ( overheating ). Pukulan kedua terhadap perekonomian China muncul setelah resesi global baru-baru ini, tetapi bukan karena ketergantungan China pada ekspor, hal ini terbukti bahwa China mampu memperoleh nilai ekspor sebesar 40 % dari GDP, masalahnya adalah China banyak menggunakan bahan baku atau komponen impor , sehingga hanya memperoleh nilai tambah sebesar 18 % ( value added ) dan hanya 10% jumlah tenaga kerja yang ditempatkan pada sektor ekspor.

Grafik 



     China bukan saja salah satu negara yang memiliki dana stimulus yang besar, tetapi pemerintah China meminta kepada perusahaan miliki negara ( BUMN ) untuk melakukan belanja di pasar domestik dan Bank segera mengucurkan kredit pada sektor swasta dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi dalam negeri, suatu contoh proyek infrastrukur “ Jalan Kereta Api “ telah melipat gandakan pertumbuhan ekonomi China.

     Pemerintah China hanya memberikan 30 % dari $ 585 Milyar untuk paket infrastruktur , sisanya didukung oleh pinjaman Bank yang telah dikucurkan selama 12 bulan sampai akhir Maret sebesar 30 %. Apabila kebijakan tersebut berjalan dengan baik, maka tidak mustahil pertumbuhan pada tiga kwartal terakhir mencapai 10 %/tahun ( JP Morgan ). Hal lainnya adalah bangkitnya sektor property, yang akhir Maret mengalamai kenaikan sebesar 36 %, merupakan tanda-tanda pemulihan ekonomi China semakin baik ( UBS ) .

     Pada masa krisis 1988 lalu , Sektor perbankan di China diminta oleh pemerintah untuk mendukung kebijakan stimulus , banyak kinerja perbankan yang menyisakan “ non performing loan “ yang besar. Kinerja perbankan China saat ini berbeda dengan tahun 1988. Bank di China rata-rata memiliki Loan - to - Deposit Ratio ( LDR ) hanya sebesar 67 % ( cukup rendah dengan ukuran standar ) , Non Performing Loan sebesar 5 %, turun hampir 40 % dari tahun 1988. 

     Tugas pemerintah China terbesar , dan negara lainnya yang mengalamai dampak resesi ini, khususnya dalam menghidupkan kembali mesin pertumbuhan ekonominya adalah tidak hanya tergantung kepada ekspor saja dan stimulus dari pemerintah dalam jangka panjang , tetapi kemampuan pemerintah China dalam mendorong sektor swasta untuk mampu memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dan kompetitif untuk kepentingan dalam negeri ( Tao Wang – UBS Economist ) .

April 18, 2009 
 

 
HOME