





![]() | Today | 10 |
![]() | Yesterday | 117 |
![]() | This week | 461 |
![]() | This month | 1113 |
![]() | All | 31308 |
Who's Online
We have 3 guests online| Strategy |
|
Mega Mergers Xstrata akan melakukan mega merger dengan Anglo American, dan merupakan model bisnis untuk mengantisipasi kenaikan harga dan diversifikasi bisnis .
Oleh Hendra S Raharjaputra
Selasa, 23 Juni 2009
![]() Pertambangan merupakan salah satu bisnis yang memiliki suatu sikus yang cepat, tidak hanya karena harga komoditinya yang fluktuatif, tetapi sering merupakan suatu ambisi perusahaan tambang raksasa dalam melakukan diversifikasi dengan melakukan mega-merger. Pada 21 Juni yang lalu Xstrata – raksasa pertambangan Anglo Swiss melakukan suatu pendekatan untuk merger-seimbang ( merger of equals ) dengan raksasa lain Anglo American, yang berbasis di London diperkirakan akan memiliki nilai sebesar US$ 70 milyar ( Setara Rp. 700.000.000.000.000 atau Rp. 700 Triliun ) , dan akan merupakan perusahaan pertambangan raksasa ke tiga didunia. Pernyataan kedua raksasa tersebut di publikasikan, setelah dua raksasa lainnya , Rio Tinto dan BHP Biliton – keduanya perusahaan pertambangan Anglo Australia, pada dua minggu lalu menyatakan merger.
Perputaran perundingan terakhir ditentukan ketika harga komoditi menunjukan kenaikan, hal ini disinyalir dari laporan Bank Dunia , setelah beberapa waktu lalu harga komoditi dan perekonomian China menurun ( China merupakan negara pemicu kenaikan harga komoditi pertambangan, dengan kebutuhan enerji dan bahan logam yang besar ). Hal lainnya adalah urbanisasi di China dan India akan memicu permintaan atas barang-barang berbahan logam ( iron-ore ) , dan sering dijadikan komoditi spekulasi , karena kenaikan harga yang tinggi .
Merger terbesar dilakukan oleh BHP Biliton terhadap Rio Tinto yang gagal dilakukan karena masalah kredit pada November 2008 , tetapi saat ini kedua perusahaan tersebut melakukan merger dengan logika pemikiran yang sama dengan dukungan atas penawaran dari BHP . Dengan Join Venture tersebut akan mengurangi biaya ( cost – cutting ) US$ 10 Milyar per tahun ( Rp. 100.000.000.000.000,- atau Rp. 100 Triliun), sementara merger Xstrata dengan Anglo Amercan akan mereduksi biaya sebesar Rp. 17 Triliun . Xstrata memiliki kemampuan dalam manajemen biaya operasional yang akan ditularkan kepada Anglo American. Kekhawatiran muncul dari para perusahaan baja , dengan merger kedua raksasa tersebut harga dari batu bara atau komoditi lainnya yang dihasilkan akan naik dibawah kendali perusahaan raksasa tersebut. Saat ini kedua raksasa merger tersebut telah menguasai atau sebagai produsen terbesar dari Berlian , Platina, Seng/ Timah Sari dan tembaga.
Perusahaan pertambangan dengan cepat menaikan kapasitas produksinya, ketika harga komoditi naik, ketika harga komoditi menurun, untuk menghindari gangguan terhadap keuntungan , maka perusahaan segera melakukan cost-cutting dengan menutup proyek yang tidak menguntungkan atau menyumbangkan contribution margin yang rendah , dan mencari proyek baru. Perusahaan pertambangan akan mengeluarkan investasi atau capital expenditure untuk proyek baru yang diperkirakan memiliki deposit yang besar dan biaya rendah, dengan masa proyek antara 7 sampai 10 tahun .
Sulitnya mencari sumber tambang baru, para penambang raksasa telah mendekati pemerintah Congo, Guenia dan Mongolia , dan berjuang lebih keras untuk melakukan suatu investasi besar dalam suatu bisnis yang penuh resiko. Para pemula bisnis dalam pertambangan ( yuniors ) banyak yang gagal dalam melakukan eksplorasi dengan hutang atau kredit yang besar, sementara deposit ( jumlah komoditi yang ada ) tidak memenuhi kelayakan bisnis.
|
HOME
BIZ_TALKS SITES
STRATEGY - I
Mega Mergers
BIZ_TALKS SITES
STRATEGY - I
Mega Mergers 





