





![]() | Today | 7 |
![]() | Yesterday | 64 |
![]() | This week | 7 |
![]() | This month | 463 |
![]() | All | 49325 |
Who's Online
We have 5 guests online| Case Study 02 |
|
UNILEVER INDONESIA Menduduki ranking pertama
Perusahaan raksasa barang konsumsi “ Unilever Indonesia “ menekankan nilai perusahaan pada Marketing , Packaging dan Pricing untuk masuk ke pasar yang menarik dan menjanjikan ( juice market ) seperti Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta .
Isssue : PT.Unilever Indonesia , Perusahaan publik yang merupakan perwakilan dari raksasa Anglo – Dutch ( Belanda ) sangat piawai mendulang uang di Indonesia , walupupun dalam keadaan buruk seperti yang sedang dialami saat ini. PT.Unilever Indonesia perlu berterima kasih kepada masyarakat Indonesia dengan jumlah 240 juta , khususnya yang telah mengangkat perusahaan tersebut memperoleh gelar “ Perusahaan Terbaik “ dengan menduduki ranking pertama pada tahun 2008-2009 ( The Wall Street Journal Asia ) . Unilever menduduki peringkat kesatu , menggeser PT.Astra International ( 2007 - 2008 ) , sebuah perusahaan yang menjalankan aneka bisnis ( diversifikasi ) , salah satunya adalah otomotif . Dalam suatu survey yang dilakukan oleh Asia 200 ( The Wall Street Journal Asia ) , Unilever unggul dalam melakukan terobosan inovasi selama kondisi perekonomian sedang membaik , dan berdampak positif disaat perekonomian menurun, diantaranya melakukan inovasi produk-produk seperti shampo pewarna rambut - suatu trend baru pada masyarakat kelas menengah .
Unilever memiliki pangsa pasar 40 % dari pasar Indonesia untuk produk shampo, kosmetik, detergent dan toiletries , dan saat ini sedang berjuang keras dalam kondisi perekonomian yang menurun . Indonesia , tidak seperti kebanyakan bangsa Asia yang menggantungkan kepada ekspor , hampir 2/3 dari Gross Domestic Product nya diperoleh dari permintaan lokal . IMF memprediksikan , Indonesia akan memiliki pertumbuhan sebesar 3 – 4 % di tahun 2009 , apabila tingkat bunga menurun. Tingkat kepercayaan konsumen sudah mulai meningkat , walaupun pada wilayah penghasil komoditi produk ekspor, seperti batu baru, kelapa sawit , harga komoditinya cenderung naik , tetapi permintaan masih menurun dibandingkan tahun sebelumnya . Dari survey Asia 200 , para responden menyatakan bahwa kira-kira 12 % akan membelanjakan uangnya secara signifikan “ sedikit “ pada tahun 2009 , dan 54 % menyatakan akan membelanjakan uangnya “ agak sedikit “ , sementara 8 % menyatakan akan membelanjakan “ lebih “ .
Unilever akan mencari cara ( strategi baru ) untuk memenuhi kebutuhan konsumen sesuai pola belanja masyarakat bawah, salah satunya memformulasikan kembali produk yang telah populer “ MOLTO “ , dimana produk ini sebelumnya digunakan untuk mencuci baju dengan tiga langkah , akan diusahakan hanya satu langkah saja , sehingga akan menghemat air , khususnya bagi masyarakat penghasilan rendah yang mengalami masalah dengan air , demikian yang dikemukakan oleh Eka Sugiarto , Head of Marketing PT.Unilever Indonesia. Strategi lainnya adalah Unilever akan memposisikan kembali dengan menggeser citra sebagai produsen produk premium pemeliharaan kulit, antara lain sedang mengkampanyekan suatu produk krim wajah “ Ponds “ yang dijamin lebih murah dari pesaing. Saat yang tepat bagi Unilever, ketika para konsumen akan melakukan pilihan tepat atas produk dan merek beragam .
PT.Unilever Indonesia sedang mengembangkan pasar baru untuk produk-produk yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat konsumen , yaitu produk bagi yang berpenghasilan +/- Rp. 22.000 / hari ( +/- 1/3 penduduk Indonesia ) , berupa deodoran dalam bentuk sachet dengan harga Rp. 1.500,- jauh lebih murah dari bentuk “ Roll On “ . Kendala lain yang dihadapi adalah transportasi untuk distribusi kepada lokasi pasar ( kepulauan ) , yang perlu dibenahi agar lebih efektif dan efisien.
Pada tahun lalu, perusahaan telah mengambil alih perusahaan minuman juice terkenal Buavita , dengan harga $ 40 Juta ( Rp. 400.000.000.000,- atau Rp. 400 Milyar ) , lompatan pertama bagi bisnis produk minuman juice , selain Lipton Tea . Keberhasilan Unilever adalah kemampuan dalam melakukan suatu riset yang efektif dikombinasikan dengan keunggulan jaringan distribusi , serta aneka macam produk bagi segmen yang berbeda sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat .
Pesaing kuat yang akan mengancam Unilever adalah PT.Wings Surya , salah satu perusahaan yang cukup potensial menggoyang pasar barang-barang konsumsi , suatu perusahaan keluarga ( non listed company ) yang dibangun 60 tahun lalu oleh keluarga Katuari . Wings telah berhasil membangun pasar untuk produk kebutuhan rumah tangga , seperti deterjen dan lainnya . Unilever telah menjawab tantangan tersebut dengan produk deterjen “ Rinso “ seharga Rp. 500,- per sachet .
ANALISA : Unilever seperti yang telah disinyalir dalam isu diatas memiliki salah satu kekuatan ( strengths ) dalam riset yang terus dilakukan secara effektif, sehingga memahami kondisi pasar barang konsumsi dari A sampai Z ( inovasi produk, harga, biaya transportasi, jaringan usaha , dan sebagianya ) . Suatu bukti bahwa masyarakat Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta dan berpenghasilan beragam menjadi target pasar Unilever . Hal lainnya adalah inovasi dan keragaman produk yang ditawarkan untuk memenuhi pasar , sesuai dengan daya beli masyarakat ( segmentasi ) . Tidak heran , negara yang berpenduduk besar seperti Indonesia, China dan India merupakan pasar gemuk , dan menjadi bidikan pasar para produsen barang-barang konsumsi, termasuk PT.Coca Indonesia, PT.Pepsi Cola, PT.Danone dan banyak lainnya, termasuk PT.Wing Surya yang memiliki produk mayoritas yang sama dengan Unilever. Bagi produsen atau perusahaan yang telah memiliki jaringan distribusi yang merata dan menyuluruh , khususnya Indonesia yang berbentuk kepulauan, produsen yang cerdas akan memanfaatkan biaya transportasi dan jaringan yang telah dimiliki untuk memperkecil harga pokok penjualannya atau meningkatkan margin labanya. Hal ini merupakan suatu keuntungan besar, dibandingkan dengan pemain baru yang harus membangun jaringan distribusi dan transportasi yang sangat mahal, baik dari aspek biaya maupun non materil ( kepercayaan konsumen dan lainnya ). Pembaca mungkin masih ingat, ketika beberapa tahun lalu produsen Indomie menyatakan akan meng -indomie-kan Indonesia , artinya bahwa Indomie akan diperoleh dimana saja dipelosok belahan Indonesia, dengan kemampuan sistem distribusi dan jaringan penjualan yang cerdas dan terpadu, dan hal ini terbukti . Pengambil alihan atau akuisisi yang dilakukan oleh banyak perusahaan atas merk dan produk tertentu , seperti ; Kecap Bango dan Buavita oleh Unilever , Aqua oleh Danone , dan lainnya merupakan suatu strategi memaksimalkan jaringan distribusi dan pasar yang telah digarap oleh perusahaan tersebut. Hal ini akan menekan biaya atau cost saving serta penentuan harga yang efektif dalam persaingan yang semakin ketat. Pendapat lain silahkan ke : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Oleh : HSFAMES GLOBALINDS - Consulting Division The Wall street Journal
|
HOME
BIZ_TALKS SITES
CASE STUDY
Unilever Indonesia
BIZ_TALKS SITES
CASE STUDY
Unilever Indonesia 




