





![]() | Today | 7 |
![]() | Yesterday | 52 |
![]() | This week | 397 |
![]() | This month | 3021 |
![]() | All | 46245 |
Who's Online
We have 11 guests online| Hot News |
|
“ Taking the Hill - Yum !“ Tag : Brand’s Corporate Culture
Sumber : The Economist dan sumber lainnya Posted by : HSFAMES GLOBALMINDS ( 30/10/09 )
" Seorang Management Guru, Mr.O'Keeffey, melakukan perbaikan budaya perusahaan terhadap restauran siap saji " Industri makanan cepat saji sering dianggap merupakan bisnis yang tidak membutuhkan investasi besar dalam sumberdaya manusianya, bahkan sering dianggap tidak pantas menjadi bahan pembicaraan sekalipun dilakukan PHK, berbeda dengan industri lainnya, seperti tekstil, garment, sepatu, pesawat terbang dan lainnya. Produk makanan siap saji yang dikelola oleh Yum Brands,Inc , diantaranya merk terkemuka ; KFC, Pizza Hut, dan Taco Bell. Dave Novak, seorang chief executive , akan memberikan program pelatihan , yang ia sebut “ suatu perubahan budaya terbesar didunia saat ini “, yang akan merubah 1,4 juta pegawai yang menyebar di 112 negara .
Yum! telah memberikan kesejahteraan dan kekayaan terhadap investornya , sejak PepsiCo melakukan “ Spin Off “ – yaitu memecah sahamnya menjadi bagian-bagian dengan nilai nominal kecil sejak tahun 1997. Sejak itu sahamnya melonjak menjadi empat kali lipat, Mr Novak menyampaikannya dengan bangga. Dalam jangka waktu 7 tahun earning per share-nya ( keuntungan perusahaan / jumlah saham yang beredar ) telah tumbuh sebesar 10 % pertahun . Ambisi Novak telah terpenuhi dengan menjadi perusahaan global yang pendapatannya lebih dari 65 % diperoleh dari luar Amerika. Mr.Novak yang sejak tahun 2000 menjadi bos menghindar untuk merasakan kepuasan pribadinya , beberapa tahun lalu ia melakukan peninjauan bisnisnya , secara internal apakah telah melakukan praktik terbaik , dan mempelajari cara bisnis yang dilakukan oleh pesaing beratnya, yaitu Mc.Donald.
Pengujian terhadap tiga aspek penting untuk perbaikan : menjual produk makanan sehat, menawarkan minuman lebih bervariasi, dan merubah menu sesuai dengan waktu . Yang menjadi masalah besar untuk melaksanakan ide tersebut adalah budaya korporasi dari Yum’s Brand,Inc ; Berbeda merk dan operasional yang beroperasi di berbagai negara , membuat usaha dari para karyawannya lambat dan kurang inisiatif.
Ketika kunjungan ke China, dimana Yum! Membuka lebih dari 500 restauran baru tahun lalu , Novak menemukan apa yang ia harapkan dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi , dengan beroperasi di 600 kota , 400 diantaranya tidak memiliki pesaing dari barat . Tahun lalu Yum! divisi China meraup keuntungan sebesar $ 469 juta ( Rp. 4,5 Triliun) . Bisnis di China tersebut menjanjikan , walaupun untungnya kecil, tetapi merupakan fajar timur yang menyingsing.
Mr Novak mendengar bahwa para pegawai di China telah memanfaatkan 3 jargon penting , seperti ; “future back vision”, “bold request” dan “action versus activity” yang diperkenalkan oleh John O’Keeffe, seorang mantan eksekutif Procter & Gamble yang kemudian menjadi management guru , dikenal kemudian sebagai “master of triangular thinking and triangular action” , yang mana idenya banyak digunakan dalam training dan coaching oleh staf lokal. Training dan coaching tersebut akan menciptakan suatu semangat baru atas kebuntuan karena budaya perusahaan .
Mr. Novak terkesan dengan hal-hal tersebut diatas , dan memutuskan ide dari O’Keeffe harus diajarkan melalui perusahaannya. Tujuan akhirnya adalah menciptakan suatu budaya korporasi yang seragam dengan penekanan pada inovasi yang konstan, atau disebut dengan “taking the hill”, seperti apa yang diistilahkan oleh Mr O’Keeffe . Ia merencanakan suatu kursus khusus untuk Yum! , yang disebut dengan “Achieving Breakthrough Results” (ABR) dimana para manajer dapat megajar para bawahannya . Model ini akan menyebarkan suatu rantai komando dari 200 para senior eksekutif perusahaan terhadap para manajer restauran dan pemegang wara laba di seluruh dunia . Mr.Novak mengharapkan semua satuan kerja akan belajar banyak dari Mr.O’Keefee .
ABR akan membuat Yum! memiliki kemajuan yang cepat dalam tiga inisiatif diatas dibandingkan masa lalu . Inovasi tersebut akan diujikan pada satu negara , dan lalu diadopsi secara cepat kepada yang lainnya. British KFC outlet, suatu contoh, merupakan perintis suatu menu makanan pagi yang ditawarkan pada hampir 12 negara . Taco Bell sedang mencoba untuk menawarkan menu makan pagi , dan Pizza Hut – China akan menawarkan menu yang disebut “ teatime menu “.
Yum! sedang mencoba mengikuti keunggulan McDonald dengan menawarkan makanan lebih sehat . KFC Perancis telah mengembangkan sandwich ayam bakar , yang disebut dengan “ Brazer “ yang akan di luncurkan tahun depan di seluruh dunia . KFC dan Taco Bell akan meluncurkan minuman buah-buahan baru disebut Krushers dan Frutista Freezes . “The ABR process akan mengawali langsung dalam memutuskan atas peluncuran Krushers,” demikian menurut Micky Pant, Yum!’s chief marketing officer.
Yum! masih memiliki masalah , walaupun usaha terbaik telah dilakukan atas saran Mr O’Keeffe’s . Suatu usaha temporer pemulihan merek produk Pizza Hut di Amerika dan Pasta Hut di Britania belum sepenuhnya diterima konsumen . Penjualan di China mengecewakan krena adanya persaingan ketat dari lokal restauran , walaupun keuntungan terus tumbuh dikarenakan margin yang membesar . Di Amerika , resesi telah menghantam omzet penjualan Pizza Hut.
Mr.Novak meyakini atas model ABR , yang akan bertanggung jawab untuk keberhasilan Yum! . Ia menunjukkan bahwa earning per sahare telah tumbuh secara berlanjut tahun ini . “ Kami akan memberikan keyakinan pada semua pegawai untuk mempersiapkan lebih baik demi sukses di masa depan “ demikian Novak.
|
HOME
BIZ_TALKS SITES
STRATEGY - II
Taking The Hill -Yum!
BIZ_TALKS SITES
STRATEGY - II
Taking The Hill -Yum! 




