Text Size
   
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday7
mod_vvisit_counterYesterday52
mod_vvisit_counterThis week397
mod_vvisit_counterThis month3021
mod_vvisit_counterAll46245

Who's Online

We have 17 guests online
Hot News
                           

Siapa Jago Otomotif Asia ?


" India telah satu langkah kedepan dalam ekspor. Keunggulan kualitas dan enjinering yang belum didapat China "


  

By
Mehul Srivastava and Ian Rowley

Delhi – Dalam beberapa tahun terakhir , pembuat otomotif global  gaduh atas keberhasilan China mengekspor kendaraan yang mampu menurunkan keuntungan di hampir belahan dunia, tetapi tantangan terbesar muncul dari negara tetangganya , India  . Tahun ini , sampai September 2009 , India mengekspor lebih dari 292.000 unit kendaraan , naik sebesar 32 % dari periode yang sama , sementara China jatuh hampir 57 % , kira-kira hanya mengekspor 221.000 unit kendaraan. Secara kontras, China , dimana aktivitas ekspornya datang mayoritas dari perusahaan domestik, India sebagian besar ekspornya dari aktivitas pabrik perusahaan global miliknya.   Mereka ( perusahaan global )  menyukai India , karena India memiliki pasar yang sedang tumbuh dengan dukungan banyak insinyur yang cerdas . Mengembangkan mobil kecil di India hanya dengan biaya $ 225 juta atau Rp.2.250.000.000.000,- , apabila di Eropa bisa mencapai $ 400 juta , demikian estimasi dari para peneliti CSM Worldwide. Apabila biaya yang dimiliki China sama dengan India, China belum mampu menembus pasar negara-negara Eropa , dimana India memiliki posisi yang kuat . Mayoritas mobil China dijual di negara berkembang. " Kelebihan India terletak pada kemampuan enjinering yang kuat dan pemasok yang besar dan kompetitif , yang telah banyak belajar untuk memenuhi persyaratan atau kualifikasi pasar Eropa" demikian menurut Ammar Master, seorang analis dari J.D.Power & Associates ( MHP ).

Merk-merk ternama dunia berada di pabrik India ; Renault dan Nissan Motor ( NSANY ) , sedang membangun pabrik dekat  Chennai dengan kapasitas per tahun 400.000 unit , yang rencananya akan diskepor ke Eropa pada bulan Mei tahun depan.  Ford (F) sedang memperbaiki pabrik yang berada di india untuk membuat kendaraan kecil , disebut Figo, yang rencana ekspornya tahun depan. Volkswagen sedang mendorong dua pabriknya di India Timur dengan kapaitas 110.000 unit per tahun untuk ekspor . "India menawarkan suatu keuntungan untuk mengembangkan dan membangun mobil kecil dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan Eropa " demikian menurut Rajesh Nellore, the India head for PSA-Peugeot Citro๋n,  yang memiliki lahan pabrik dekat Hyderabad , dengan kapasitas 100.000 unit per tahun. " Kendaraan – kendaraan tersebut tidak membutuhkan perubahan yang dramatis sesuai dengan kebutuhan wilayah atau negara barat “ lanjut Rajesh .
 
Hyundai dan Maruti Suzuki – joint venture India dan Jepang masih memimpin di India . Dengan pengenalan kendaraan kecil A-Star , telah melipatgandakan penjualan di Eropa tahun ini sejumlah 91.000 unit. Hyundai memperkirakan akan mengekspor sebesar 300.000 unit kendaraan dari India , yang sebagian besar type “ hatchbacks - i10 and the i20 “ . Tata Motors (TTM) ketinggalan dibelakang mereka. Type hatchbacks dan sedan sangat disukai di Italy dan Britania .
 
Keunggulan India di Eropa, bukan berarti China suatu saat tidak akan mengambil alih pasar Eropa.  Sebagian atas sukses India tahun ini, dikarenakan adanya program bantuan pemerintah terhadap penjualan otomotif dalam rangka membangkitkan perekonomiannya yang disebut “ cash –for-clunkers program . Sementara pasar China , kira-kira 5 kali dari India , telah tumbuh hampir 46 % , yang lebih fokus ke pasar dalam negeri daripada ekspor . Dengan hanya 2 juta kendaraan akhir tahun ini , pasar India terlalu kecil untuk menjamin bahwa semua kapasitas yang dimiliki untuk ekspor. “ Jika anda memiliki sebuah pabrik di China , kapasitas tersebut hanya akan mampu memenuhi pasar China saja “  demikian menurut Colin Dodge, Nissan's chief for Africa, Middle-East, India, and Europe. " Jangan berpikir untuk ekspor ."
 
Srivastava reports for BusinessWeek from New Delhi. Rowley is a correspondent in BusinessWeek's Tokyo bureau.

Posted by : HSFAMES GLOBALMINDS ( 16/11/09 )
 
 
 
HOME