





![]() | Today | 67 |
![]() | Yesterday | 76 |
![]() | This week | 228 |
![]() | This month | 880 |
![]() | All | 31075 |
Who's Online
We have 2 guests online| Hot News |
|
Kekeliruan Toyota “ Apa yang dapat dipelajari dari para raksasa bisnis dalam rangka
“ corporate turnarounds “ Diposkan oleh : HSFAMES GLOBALMINDS ( 18 Des 2009 )
Hanya kurun waktu kurang dari dua tahun , Toyota menghempaskan raksasa otomotif yang sedang mati suri , General Motors (GM), dan menjadi perusahaan otomotif terbesar didunia. Saat ini , bos baru Toyota, Akio Toyoda, 53 tahun , cucu dari pendiri mengatakan bahwa perusahaan dalam kondisi terjebak pada “ a spiral of decline “ – kondisi yang bertentangan baik karena faktor internal maupun eksternal. Toyota masih merupakan suatu perusahaan yang begitu besar , termasuk industri yang berada didalamnya . Mr Toyoda memiliki ambisi yang berlebihan , tetapi belum ada tanda-tanda yang menunjukkan perbaikan .
Sejarah Toyota memiliki pengaruh , bukan saja pada industri otomotif, tetapi pada banyak industri. Model dan sistem keunggulan yang dikenal dengan “ lean manufacturing ” telah banyak ditiru oleh banyak perusahaan atau industri . Suatu kekeliruan yang besar , yang pernah dianggap bermanfaat bagi diri sendiri , tetapi saat ini merupakan pelajaran penting bagi yang lain.
Raksasa berjatuhan
Walaupun beberapa pesaing muncul seperti ; Volkswagen dari Germany dan Hyundai dari South Korea, mulai menggerogoti pasar , secara relatif belum begitu mengganggu pasar Toyota . Toyota’s market-share telah menurun dan tidak beranjak pada beberapa wilayah , dimana Toyota beroperasi, kecuali di Jepang . Bagi semua raksasa otomotif pasar telah mulai mengkerut, sebelum krisis terjadi saat ini. . Di Amerika , pasar yang normal dan paling menguntungkan, Toyota telah dicederai oleh suatu kasus yang memalukan , yaitu adanya pertanyaan tentang kemanan ( safety ) produknya, sehingga diminta publik untuk ditarik dari pasar . Di China, India dan Brazil, pasar yang sedang tumbuh besar dan menjanjikan pertumbuhan, penjualan Toyota masih lambat . Kepimimpinan Toyota atas teknologi hybrid terancam oleh raksasa otomotif lainnya , yang meluncurkan kendaraan rendah dan tanpa gas buang yang mengandung karbon . Mencengangkan , dalam 3 bulan terakhir tahun 2009 , Toyota mengalami kerugian lebih besar dari General Motor . Mengamati kondisi tersebut atas masalah yang dihadapi Toyota : Para pesaing telah mulai untuk mengejar dengan menawarkan kendaraan yang tidak saja “ terjangkau “ tetapi juga lebih menarik , dibandingkan dengan Toyota yang konsentrasi hanya pada “ memproduksi jumlah yang besar “ .
Bulan lalu , Mr Toyoda memberikan tanda-tanda , setelah sebagian waktunya dihabiskan untuk membaca buku “How the Mighty Fall”, sebuah buku yang ditulis oleh Jim Collins, penulis manajemen dari Amerika , yang mengidentifikasikan lima tahapan terhadap kemunduran korporasi . Mr Toyoda memperhitungkan bahwa Toyota mungkin sudah berada di tahap empat . Korporasi pada tahap tersebut, menurut Mr Collins, masih sering ditentukan nasibnya oleh tangan mereka sendiri, tetapi kerapkali berganti dari satu strategy “ silver bullet “ ( strategy yang mungkin dilakukan terpaksa untuk membunuh lawan ) berubah ke strategi lainnya , hal ini untuk menghindari nasib buruk yang akan dialaminya .
Kekeliruan-kekeliruan yang sering dilakukan korporasi ( menurut Collins ) : melakukan akuisisi besar-besaran untuk transformasi bisnis; melakukan program perubahan radikal , sementara kekuatan inti dilupakan ; mengindahkan suatu momentum penting dengan melakukan restrukturisasi yang kaku ; mengandalkan harapan pada strategy yang belum terbukti , seperti lompatan dramatis masuk kedalam teknologi atau bisnis baru ; dan merekrut para pemimpin bisnis yang dianggap visioner dari luar , padahal hanya memahami sedikit bisnis yang dimasukinya . Mr Collins menganjurkan untuk menggunakan kebajikan manajemen model lama , seperti ; melakukan determinasi ( ketetapan hati ) , disiplin, bersikap tenang dalam menghadapi tekanan , dan lakukan pengambilan keputusan berdasarkan kehati-hatian serta bukti nyata. Kerapkali, para pemimpin yang baik mampu mengatasi penurunan yang bersifat spiral tersebut, karena memahami tentang kekuatan yang dimiliki perusahaannya , sehingga menghapuskan kelemahannya .
Beberapa contoh , akhir tahun 1990s Hewlett-Packard dan Motorola menghadapi masalah besar ,IBM, perusahaan yang telah lama dibanggakan di Amerika pada awal dekade lalu menderita . Ketiga raksasa tersebut harus menghadapi masalah , yaitu menyesuaikan bisnisnya terhadap melonjaknya penggunaan internet. HP dan Motorola, dalam usahanya harus memperbaiki diri dengan merekrut bos dari luar perusahaan dan melakukan reorganisasi berulang-ulang . Beruntung bagi HP dengan menarik Mark Hurd di saat yang tepat , menggantikan Carly Fiorina, yang dipecat pada tahun 2005 . Mr Hurd konsentrasi pada operasional dan eksekusi yang efisien , kinerja keuangan dan pelanggan . Motorola, secara kontras tidak pernah pulih kembali setelah mengalami bencana atas pecahnya permintaan telekomunikasi yang sangat besar di tahun 2000-01, yang dikenal “ bubble telcoms “ : Harga sahamnya saat ini hanya 1/6 dari harga puncak yang pernah didapat.
Bagi IBM, yang telah menemukan hidup baru setelah hampir menghadapi kematian , perlu berterima kasih kepada Lou Gerstner yang tidak panik terhadap solusi perubahan permainan yang diarahkan oleh analis Wall Street , investment bankers dan beberapa senior manager – pemilik IBM . Mr Gerstner memberikan opsi mantap untuk membangun kekuatan yang dimilikinya untuk menempati peringkat pertama , setidaknya IBM memiliki kualitas sumberdaya manusia yang mumpuni sebagai “ rakasasa biru “ di pasar komputer .
Sedikit “ raungan” dibutuhkan
Toyota dapat belajar banyak dari penderitaan pembuat otomotif masa lalu. Satu dekade lalu , Ford berpikir telah menemukan penyelamat dari diri seorang Jac Nasser yang dinamis . Ia menyampaikan maksudnya untuk melakukan transformasi bisnis dari pembuat otomotif yang berada pada perekonomian kuno masuk ke lingkungan yang gesit, kecerdasan internet , kekuatan pelanggan yang akan mengelola merk dan menjual pelayanan maksimal. Ia melakukan suatu akuisisi besar-besaran secara liar dengan membayar Volvo dan Land Rover dengan harga fantastis . Tidak beruntung , ditengah revolusi budaya yang dilakukan Mr Nasser’s saat itu , Ford kehilangan tujuan utama : membangun kendaraan yang layak dengan efisien dan menguntungkan . Tetapi dari semuanya yang dilakukan Ford , kini membuahkan hasil baik , dibawah kepimpinan Alan Mulally yang kurang mendapat sorotan publik.
Toyota memiliki kesempatan untuk meletakan segalanya secara tepat dan benar . Toyota bukan General Motor yang memiliki masalah struktural yang dalam , sebelum dinyatakan bangkrut . Toyota memiliki bos dan para eksekutif puncak yang sangat memahami kekeliruan yang sedang terjadi , merusak reputasi kualitas yang dimilikinya . Ia telah membuat daftar aksi yang harus dilakukan . Kualitas dan kehandalan akan kembali ditata Toyota . Saatnya membuat kendaraan yang lebih inovatif dan menarik .
Pendekatan Mr Toyoda tidak visioner – simpel , incremental dan membutuhkan perhatian seksama terhadap apa yang diinginkan para konsumen . Itulah “ Kebajikan “
Dec 10th 2009
From The Economist print edition Comment : generated3338137 wrote:
Dec 16th 2009 3:23 GMT
Toyota's biggest problem in the recent past was that, compared to some of their competitors, it was sluggish in responding to the recession. As is often the case, this problem comes from their strength -- of being considered the "perfect" automobile manufacturer. It is more difficult to reinvent yourself if the whole world harps on your excellence. The truth is that besides their manufacturing strength, Detroit3's problems and stupidity and the weak yen contributed to their growing market share. At least they have woken up before it is too late.
Gandalf_the_Grey wrote:
Dec 16th 2009 10:00 GMT
@ Ilambiquated - "The Yen isn't the real issue because Toyota produces all over the world, not just in Japan."
Not quite accurate. Toyota does produce around the world. But its local production tends to be only a portion of its sales in that region. The balance is made up by imports from the home country. The US being a case point, where only about 60% of sales are produced there.
In fact I pretty much agree with Law@HK. Toyota would not have been in the shape it is in today were it not for the yen going berserk. After all Toyota was everyones darling just a couple of years ago. The company has not changed that much, circumstances have.
generated3338137 wrote:
Dec 16th 2009 3:52 GMT
@Gandalf_the_Grey, the fact that Toyota has not changed in the last couple of years is their biggest problems, as generated3338137 says above. Tough times calls for quick, bold decisions, that Toyota is the worst in the auto world at that.
Hendra S Raharjaputra wrote:
Dec 18th 2009 1:38 GMT
In my opinion Toyota still has good prospect, cause it has an excellent infrastructure of business. But watch out, the suffered car's companies will have " let life or die strategy " to restructuring their businesses that it's result " now or never " .
|
HOME
BIZ_TALKS SITES
STRATEGY - II
Corporate Turnarounds
BIZ_TALKS SITES
STRATEGY - II
Corporate Turnarounds 




