Text Size
   
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday88
mod_vvisit_counterYesterday84
mod_vvisit_counterThis week333
mod_vvisit_counterThis month985
mod_vvisit_counterAll31181

Who's Online

We have 5 guests online
Hot News



Petani Apel Kota Batu Siap Hadapi Perdagangan Bebas
 
Selasa, 05 Januari 2010 20:39 WIB     
 
      

ANTARA/Ari Bowo Sucipto
 
MALANG--MI: Petani apel di Kota Batu, Jawa Timur, menyatakan siap mengahadapi perdagangan bebas atau ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) sekaligus siap bersaing dengan produk China.

Pasalnya buah apel kota itu memiliki pasar sendiri dan sebagian besar konsumen masih memilih apel lokal karena selain harganya murah, rasanya juga lebih segar dan memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki apel impor.

"Hasil panen buah apel Kota Batu seluruhnya dijual di pasar lokal. Sejauh ini belum ada masalah meskipun beberapa tahun terakhir banyak diserbu apel impor. Apel lokal tetap laku di pasaran," kata Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Apel di Kota Batu Moch Toha, Selasa (5/1).

Menurutnya, apel lokal lebih digemari konsumen lantaran rasanya lebih segar karena baru dipetik dari kebun. Aroma dan rasanya juga lebih lezat. Wisatawan yang berkunjung ke Malang dan Batu, ujarnya, dipastikan membeli oleh-oleh apel dan berbagai produk olahannya.

Oleh karena itu, ujar Toha, pemerintah daerah diminta memperhatikan secara serius potensi agrowisata kebun apel sebagai bentuk antisipasi perdagangan bebas, agar apel lokal tidak  tergusur apel China.

Meskipun harga apel manalagi dan rumbiuti sekarang Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per kilogram (kg), sedangkan apel anna Rp3,5 ribu hingga Rp4 ribu per kg di tingkat petani, mereka optimistis produk apel lokal mampu bertahan di tengah persaingan produk apel dari China yang bakal membanjiri pasaran. (BN/OL-01)


Catatan :

Industri yang dinyatakan sebagai " sunset industries " seperti sepatu, garment, tekstil , dan lainnya yang mengandalkan " labor intensive  " merasa terancam dengan berlakunya AFTA , khususnya dari produk China yang sangat didukung oleh pemerintah.  Industri baja China dan kimia yang begitu ekspansif , seharusnya menjadi bagian yang sangat penting diperhatikan, karena negara-negar Asean yang merupakan " emerging countries " membutuhkan sandang, pangan dan papan yang besar pasca krisis keuangan global .

Nampaknya pemerintah Indonesia lebih mementingkan untuk memperdebatkan masalah politik, bagi-bagi kekuasaan dan lainnya ,  dibandingkan ekonomi, termasuk kasus-kasus perbankan yang sedang hangat-hangatnya.

Menteri Perdagangan dan Menko Perekonomian menjanjikan bahwa tidak akan terjadi PHK besar-besaran pada industri yang cukup rentan dalam persaingan , tetapi langka-langkah nyata belum tampak, yang seharusnya dilakukan antisipasi , karena isu diberlakukan AFTA telah dihembuskan dua tahun lalu ( Kesepakatan telah dibuat November 2002 di Kamboja ) .



 
HOME